Waktu itu aku berumur 26 tahun. Bokeb Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya.. Kami menghabiskan waktu menunggu kakaknya Pipit datang dengan ngobrol dan bercanda. Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku pindah ke Jakarta. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Murni sambil berlari kecil ke arahku.. “Pit.. “Mas minum lagi yah.. “Eh, kamu cantik juga yah kalau dipandang-pandang..”
Tanpa ba-Bi-Bu lagi Pipit malah memelukku, mencium, mengulum bibirku bahkan dengan semangatnya yang sensual aku dibuat terperanjat seketika. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Aku dan Pipit saling menatap, tak habis pikir kenapa ada kesempatan yang tak terduga datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami hanya berdua saja disebuah rumah yang kosong ditinggal pemiliknya. Pipit.. Bagiku Mecky dan klitoris Pipit mungkin yang terindah dan terlezaat se-Asia tenggara. Kadang dirumahnya, saat Bu Murni kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku




















