Agar kejadian kemarin terulang. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Bokep Arab Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Nampak ada perubahan besar pada Wien. Angin menerobos dari jendela. Aku tidak berani menatap wajahnya. Apakah perlu menhitung kancing. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Tetapi, aku harus berani. Ia cukup lama bermain-main di perut. Ke bawah lagi: Tidak. Ia menekan-nekan agak kuat. Agar kejadian kemarin terulang. Ke bawah: Tidak. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Ia terus mengelap pahaku. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Aku pun segan memulai cerita. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..!




















