“Hei! Video bokep Sepi kok!” Jay tertawa kecil. Tapi bukan Chie. Di sebelahku, Jay menikmati kepulan asap rokoknya yang membuyar di balik dedaunan pohon yang mengelilingi kami.Surabaya, pertengahan Mei 1999Kupeluk tubuh itu erat-erat. Mungkin aku takkan sesedih Chie, mungkin juga. Perkenalan kami sangat singkat, namun dari tatapan mata masing-masing aku dan dia langsung menyelami arti sebuah keakraban. “Aku besok ujian, Chie.”
Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30 malam. Nyaris saja kopi susu itu keluar dari mulutku dan membasahi foto copy makalah di atas meja. “Ray…”
“Ya?”
“Kukira aku sudah tidak perawan lagi…”Surabaya, Keesokan HarinyaKucengkeram kerah baju Jay dalam genggamanku, dan mengangkat kepalanya mendekatiku,
“Maksudmu apa?” desisku berang. Oh God.Jay memang harus diakui memiliki hati dan jiwa yang sungguh luar biasa. “Chie..” desahku. Ray, pemuja kasih dan seorang pecinta. Kurangkul dia dan kubiarkan air mataku membasahi bahunya.PenutupJay menyukai Chie. Dan itulah yang membuatku tertawa. Apalagi di saat-saat seperti ini.



















