Ah mengapa begitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.Ke mana ia? Vidio Sex Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Pijitan turun ke perut. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Betul-betul keras. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Apakah perlu menhitung kancing. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang.




















