Namun tiba-tiba dia tersenyum dengan senyuman yang sangat teduh dan menenangkan. Bokeb Kaki jenjangnya sedikit ditarik keatas, dia sedikit melipat lututnya, suatu tanda bahwa dia sungguh terbuai dalam permainan jemariku. Bu Chintya, begitulah kami biasa memanggilnya. Jawabanya singkat, tapi cukup menegaskan bahwa dia tidak bercanda. “maaf Bu, kalau mengenai paragraf ini, kira-kira yang salah bagian mana?” kataku sedikit memotong pembicaraannya sambil menghadapkan netbook itu kearahnya “nah, kalau yang ini mengenai penggunaan kalimatnya. “What a perfect weekend” begitu kataku dalam hati. Bibir mungilnya semakin agresif, dia menorehkan cupang merah tipis didadaku, hingga menjelajahi perut bawahku sambil menyibak selimut yang masih sedikit menaunginya. Bibir mungilnya semakin agresif, dia menorehkan cupang merah tipis didadaku, hingga menjelajahi perut bawahku sambil menyibak selimut yang masih sedikit menaunginya. Ibu sudah sehat?” kataku basa-basi “ah, saya sebenarnya juga tidak merasa sakit kok” jawabnya sambil tersenyum dan menyalakan netbook-nya. Dia malah terlihat sangat menikmati dan sedikit membuka pangkal pahanya. Bahasa tubuhnya seolah memberiku ijin untuk beranjak ke bagian itu. “OK, saya masuk dulu ya. Aku




















