Yes. Bokep India Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aq lalu menuju salon. Keberuntungankah? Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Sebantar lagi Mbak Ita yg punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aq langsung beres-beres dan pulang. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku. Begini saja daripada repot-repot. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aq hanya mendengus. Sekarang sudah lebih lancar. Sial. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Ia masih dingin tanpa ekspresi. Masih ada waktu bebas 3 jam. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Mbak Iin sudah turun. Aq tdk berani menatap wajahnya. Tunggu apa lagi. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aq belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi.




















