Ah bodoh. Film Porno Garis setrikaannya masih terlihat. Mendadak jari tanganku dingin semua. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Sekarang sudah lebih lancar. Aku tidak tahan. Ia tepat berada di tengah-tengah. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Kaki disandarkan di dinding. Pasti terburu-buru. Ke bawah lagi: Turun. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Inilah kesempatan itu. Aku menurut saja. Bodoh, bodoh, bodoh. Ia tepat berada di tengah-tengah. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Aku menggelepar.“Sst..! Membuatku tidak berani. Aku tidak berpakaian kini. Ia tersenyum. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha.




















