Aku jadi geli, tapi yang jelas saat itu aku merasa beda. Bokep China Saat itu Kak Agun memelukku dan menghiburku,
“Sudahlah Alit jangan menangis, hadiah ini akan menjadi kenang-kenangan buat kamu. Saat itu aku masih SMP kelas 2, Kak Luna sudah di SMA kelas 2. Sering jadi pembicara dimana-mana bahkan sering menjadi perias pengantin orang-orang beken di kotaku. “Nah…, karena kamu sudah menyelesaikan PR-mu, aku kasih hadiah” kata Kak Agun. Cuma seringnya tidur di ruang baca, karena sofa di situ besar dan empuk. Tangannya seringkali menggelitik pinggangku sehingga aku kegelian. Rasanya hati ini ada yang lain. Salah seorang teman kakakku, Kak Agun namanya, sering sekali main ke rumah. Papa punya kedudukan di kantor dan Mama seorang juru rias / ahli kecantikan terkenal. Aku melompat dan memeluk Kak Agun, “Ma kasih Kak Agun”. Aku lalu cerita bahwa semua orang rumah pergi keluar kota. Hanya CD saja yang masih terpasang rapi. “Bukan, tapi tutup mata dulu”, kata dia. Kini aku diam saja, aku berusaha rileks, dan lama-lama aku mulai menikmatinya.




















