Ha? Bokepindo Aku mau meledak. Perlu sedikit waktu untuk ia bisa bangkit. Mbak Dewi mencoba melepaskan pelukanku.“Maaf wan, mbak perlu berpikir”, kata mbak Dewi beranjak. “Gimana kuliahmu?”“Ya, begitulah mbak, lancar saja”, jawabku.Aku memberanikan diri memegang pundaknya untuk memijat. Lama sekali ruangan ini dipenuhi suara desahan kami dan suara dua daging beradu. “Saya pijetin ya mbak, sepertinya mbak capek”.“Makasih, nggak usah ah”“Nggak papa koq mbak, cuma dipijit aja, emangnya mau yang lain?”Ia tersenyum, “Ya udah, pijitin saja”Aku memijiti pundaknya, punggungnya, dengan pijatan yang halus, sesekali aku meraba ke bahunya. Dadanya menyentuh dadanku, aku memeluknya erat. Di sini aku numpang di rumah bibiku. Mbak Dewi sedikit rakus setelah ia menemukan partner sex baru. Melihat mereka dari kejauhan. Nggak ada CD? Dadanya mbak Dewi besar juga. Aku pun ditinggal sendirian di ruangan itu, tv masih menyala. Aku bermimpi bercinta dengannya, dan paginya aku dapati celana dalamku basah. Terpaksa nanti aku minta ortu kalau lagi butuh buat kuliah.Saat itu anak-anak mbak Dewi sedang sekolah.




















