Tapi lama-kelamaan, aku mulai dihinggapi perasaan takut. “Iya, Nyonya. Bokep Barat Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku bergegas meniggalkan rumah itu. Entah bagaimana cara mereka mencari uang, hingga bisa kaya raya seperti ini.Tapi memang nasib, rejeki, maut dan jodoh berada di tangan Tuhan. Karena Nyonya Wulandari sedang sibuk dengan suaminya. Sementara pakaianku sudah basah oleh keringat. Jari-jari tangankupun tidak bisa diam. Aku memang sudah bertekad untuk kembali ke desa, dan tidak ingin datang lagi ke Jakarta.Dari hasil tabunganku selama bekerja dan menjadi pemuas nafsu Nyonya Wulandari, aku bisa membuka usaha di desa. Entah kenapa aku jadi merasa kasihan. Dari kaca spion aku melihat tidak ada gurat kekecewaan di wajah Nyonya Wulandari. Entah sudah berapa kilometer aku berjalan kaki. Nyonya Wulandari sudah memberikan perintah pada juru masaknya agar memberikan menu makanan untukku yang bergizi. Saat melihat buku tabungan, aku tersenyum sendiri. Semula aku ragu dan hampir tidak percaya, karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya. Kalau memang bisa, kebetulan sekali”, sahutnya.Sesaat aku jadi tertegun.




















