Dingin. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Bokep Ojol Pijitan turun ke perut. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Aku pun segan memulai cerita. Ah apa saja. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. “Halo..?” katanya sedikit terengah. Mbak Wien sudah turun. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Aku tertipu. Yes. Tetapi berlari. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot.




















