Tapi tiga bulan berikutnya Wulan menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Bokep Crot Wulan mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Rob”. Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya. Secara cepat Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Kuambil T-Shirtnya. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.Setelah Doni puas, Robby dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Wulan. Aku dan Doni menunggu di atas. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Cerita ini terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu. Rasanya nikmat sekali. Tangan kirinya menekan perut Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, aku dan Wulan) segera melanjutkan perjalanan.Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami.




















