‘Bu dona’, kata parman sambil mendekatiku dan mendekap tubuhku. Bokepindo Parman tanpa berkata apa apa langsung keluar dan kukunci pintu toilet. Aku menundukkan kepalaku dan mencoba menghindari ciuman bibirnya yang mengecup pipi kananku.‘Tunggingin dikit bu dona’, katanya sambil menarik pantatku keatas.‘Kurang ajaaar… berani beraninya dia malah menyuruhku menungging’, umpatku dalam hati.Tapi aku tidak punya pilihan selain menuntaskan birahinya secepat mungkin, dan berharap agar semuanya secepat mungkin berakhir. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia menguakkan belahan pantatku. Aku meraba klitorisku dengan jari jariku, terasa nikmat sekali, beberapa saat kututup mataku. Dengan hati berdebar aku memasuki ruangan guru, kulihat kepala sekolah dan 2 orang guru belum pulang mereka lagi sibuk dengan urusan masing masing. Parman terus mengocok k*ntolnya tanpa henti, begitu dalam melesak masuk di lubang vaginaku. Kucoba lagi memberontak, tapi tetap sia sia.Aku pasrah, rasanya tidak mungkin lepas, kurasakan ada benda kenyal sedang menggesek gesek belahan vaginaku yang licin seperti mencari cari sasaran.




















