Tiga jam sudah aku memandangnya dari luar toko, hujan masih turun dengan lebatnya seolah ada lautan di langit sana yang gak pernah habis memuntahkan airnya.Setelah mendapatkan beberapa pakaian, Sava sepertinya sudah puas berbelanja dan membayarkan ke meja kasir. Aku barulah sadar, vaginanya menungguku untuk kembali lidahku menguaskannya.Aku memutar tubuhku, memposisikan mulutku tepat di hadapan vaginanya, sementara mulut Sava sibuk maju mundur di batang penisku sambil mengocoknya pelan-pelan. Bokep China Harum payudaranya semakin menyengat hidungku, puting yang kemerahan semakin mencuat.Aku menatapnya untuk memantapkan pergumulan kami, tapi aku hanya melihat mata Sava yang tertutup dengan bibir yang dia gigit sendiri. Aku cuma butuh kamu,” aku tersenyum lebar, lalu memeluk tubuhnya erat-erat, menekan hidungnya yang memerah karna kedinginan.“Iiiih apaan sih, gak jelas banget gombalannya,” Sava coba menjauhkan tubuhku, tapi sepertinya gak niat deh karna dorongan tangannya terasa sangat lemah, atau rasa cintaku yang terlalu kuat padanya hingga dia gak mampu melepaskan jerat benang-benang kasihku ini.Dalam sekian detik waktu berhenti, terjadi keheningan diantara gemerincik air hujan di luar sana.




















