Namun yang kutemukan bukanlah pancaran liar dan haus yang biasa kurasakan saat-saat kami masih bersama. Bokep Live Mungkin aku takkan sesedih Chie, mungkin juga. Dan karena itu pulalah aku tidak menghajarnya, walaupun itu adalah tujuanku sejak semula. “Aku ingin bercinta denganmu, Ray.”
“Jangan, Chie!”
Kupegangi kedua pundaknya, menjauhkan kepalanya. Ironis. Chie tak pernah masuk ke alam daftar gadis-gadisku. “Sentuh aku, Ray!” desahnya di dadaku. Kurangkul dia dan kubiarkan air mataku membasahi bahunya.PenutupJay menyukai Chie. Wajahnya melukiskan kebahagiaan dan ketenangan. Kutunggu saat-saat kepalannya menghajarku. Jay memandang mataku, dan melengos ke arah lain. Pahit dan menyenangkan. Sesaat setelah percintaan itu, aku mulai bisa menebak berkas-berkas fakta yang sebelumnya terasa begitu gamang. Aku hanya tertawa saat kepalannya menyentuh lenganku. “Ray, Aku masih perawan.”
Ah! Sibuk memburu keperawanan bidadari-bidadari lugu. Jay menatap kerlipan lampu kota di bawah kaki kami.




















