Tidak perlu capai-capai pemanasan. Bokeb Saya saja yang agak jual mahal. Dan sayapun lama-kelamaan tidak tahan, mundur dan masuk kamar. Masing-masing berlomba melucuti pakaian lawannya. Kedua orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Saya pun tumbuh layaknya gadis lain. Kegiatan diisi dengan baca buku, dan baca apa saja. Namun lama-lama suara obrolan itu hilang, berganti suara desahan. “Bagaimana”, kata wanita itu. Itu kata Bu Guru dan teman-teman. Dan ternyata saya mendapat kenikmatan yang sama seperti saat sedang nonton Kak Mira bercumbu. Rasa penasaran pun makin menjadi-jadi, akhirnya saya ingin tahu bagaimana rasanya berhubungan. Di dalam pergaulan ini saya mengenal yang namanya obat-obatan dan mulai merokok. Dan wanita itu tidur rebahan di sebelah kakakku. Untuk sekadar makan bersama atau kumpul keluarga saja boleh dikatakan hampir tak pernah.Kondisi itu sepertinya tidak dipedulikan oleh ketiga kakakku, dua pertama perempuan, dan ketiga laki-laki. Cukup nanar dan gemetar juga saya menyaksikan adegan itu. Tapi suara musik di kamar Kak Mira membuat langkah dan gerakan saya tidak terdengar.




















