“Si Nina, yang tadi. Ia cukup lama bermain-main di perut. Video bokep Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Ia tidak bercerita apa-apa. Makin lama makin jelas. Aku masih mematung. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Si Junior sudah mengeras. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Lalu asyik membuka tabloid. Si Junior melemah. Haruskah kujawab sapaan itu? Lalu ngomong apa? Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.




















