Sava ikut menegang dan sesaat kemudian “Croooootttttttt.”Spermaku tanpa bisa aku tahan menyembur di dalam mulut Sava, dia langsung melepaskan kulumannya mendorong tubuhku yang menindihnya. Daun pisang, satu-satunya saksi bisu diantara kami saat mengarungi malam terindah untukku, dan mungkin untuknya pula saat itu, entah saat ini dia masih mengenangnya atau tidak.Saat aku memandang daun pisang dalam genggamanku, tiba-tiba saja hawa dingin yang aku rasakan hilang. Link Bokep Tapi kami tetap berjalan, terus berjalan hingga kami sampai pada rumah Sava.“Hei Qora, masih aja payungan pake daun pisang,” ah aku baru sadar kami sudah berada di dalam rumah Sava. Oouughh terpampang jelas vagina yang tembab dengan sedikit bulu berbentuk segitiga di hadapanku. Dia masih mempunyai impian yang belum terwujud, dia harus menggapai mimpinya. Daun pisang sebagai satu-satu pelindung kami, sudah tak mampu lagi menahan derasnya air yang turun, kami sudah benar-benar basah kali ini.




















