“Kamu begitu kikuk. Aku mengerang, menahan ekstasi yang merambati seluruh sarafku. Bokep Cina Kudorong pinggangnya sedikit menjauh. “Shall we dance?” katanya, membuat tawaku berhenti. Jangan bergerak. Bibirku bergerak sendiri meraih bibirnya. Di tangannya sebuah gelas berisi lemon tea yang tinggal setengah.Saat pertama aku melihatnya, aku merasa tertarik. Ia terkekeh. Di sini. Saat kutarik kepalaku sedikit ke belakang, ia tertawa. Dengan alis berkerut kugelengkan kepalaku. Kulihat lehernya yang putih bergerak-gerak saat ia menghabiskan setengah dari isi gelasnya. Mau tak mau aku tertawa juga melihatnya. Ia lalu meraih leherku, melingkarkan kedua betisnya di pinggangku. “Tunggu,” katanya sambil tersenyum. Kalau sampai ia turun sebelumnya, aku tak yakin akan menjumpainya lagi di lain kesempatan. Kami berpagutan, sesekali saling menggigit. Tapi begini,” katanya seraya menurunkan lenganku yang terangkat. Waktu itu kulihat ia berdiri sendiri di depan pintu lorong yang menghubungkan ballroom dengan dapur.




















