Marah. Bokepindo Kuusap-usap gundukannya. Karmin pembantu priaku yang tua itu. Tidak ada. Teruss.. Lalu dia mulai mengerti dan kami saling beradu lidah dan ludah. Eehhss.. Tapi nampaknya Pak Karmin masih meneruskan aktivitasnya.Sebentar kemudian kaki isteriku diangkatnya ke kedua bahunya yang bidang dan kekar itu (meskipun sudah tua tapi tubuh pembantuku masih gagah akibat pekerjaannya yang secara fisik membutuhkan kekuatan). Setelah hampir 10 menit diangkatlah tubuh isteriku dan dibalikkannya menjadi posisi menungging. Perasaanku mulai dilanda kekacauan. Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Plus gairah buatku. “Ahh…”
Ah isteriku akhirnya jebol juga. Wuuhh gila, dahsyat sekali pemandangan yang kusaksikan ini. Akhirnya kulihat batang kemaluan Mr. Yaahh.. Semakin menggelegak gairahku ketika membayangkan bagaimana memek isteriku akan dihujami oleh benda sebesar itu.Bless. Ataukah lagi.. Ukuran rumahku cukup besar dengan masih ditambah tanah yang lumayan luas yang kubuat menjadi taman hampir mengelilingi bangunan rumah kecuali sisi kiri karena kepotong kamar-kamar pembantu dan jalan samping. Ohh.. Tanganku masih aktif bergerilya mengusapi buah kembarnya yang masih mengencang. Kuturuni perlahan tangga menuju dapur kembali.




















